Bukan Sekadar Bor: 3 Perkakas Paling 'Aneh' yang Lagi Viral di 2026 – Ada yang Pakai Tenaga Sepeda
Uncategorized

Bukan Sekadar Bor: 3 Perkakas Paling ‘Aneh’ yang Lagi Viral di 2026 – Ada yang Pakai Tenaga Sepeda

Pernah nggak lo bayangin mesin cuci pake tenaga sepeda? Atau komputer mini yang bentuknya kayak kepiting? Atau mesin cuci mungil yang terbuat dari kardus tapi beneran bisa berfungsi?

Gue juga awalnya mikir ini cuma konten absurd buat viral doang.

Tapi setelah gue ngulik lebih dalam, gue sadar: perkakas sudah berubah. Nggak lagi identik dengan suara bising dan tangan kotor. Sekarang, perkakas bisa jadi pusat perhatian, hiburan, bahkan karya seni.

Artikel ini gue tulis buat lo—kreator DIY, penggemar teknologi, pengguna aktif medsos—yang lagi nyari inspirasi buat project unik. Gue bakal bongkar:

  1. Cyberdeck: Komputer mini yang didesain secantik perhiasan
  2. Bicycle-Powered Dishwasher: Mesin cuci piring dari Thailand yang bikin olahraga jadi fun
  3. Cardboard Washing Machine: Kreasi bocah Nigeria yang bikin dunia melongo

Bonus: tren DIY 2026 dari Creativeworld Frankfurt yang gak boleh lo lewatin.

Siap? Gas.

Tren 1: Cyberdeck – Perkakas yang Jadi Karya Seni

Bayangin lo lagi di kafe. Di depan lo ada laptop. Tapi laptop ini bukan MacBook silver biasa. Bentuknya kayak kerang laut. Atau kayak kepiting. Atau kayak kue Strawberry Shortcake.

Itulah cyberdeck.

Tren ini dimulai oleh Annike Tan, gadis 22 tahun dari London. Awal 2026, dia bikin “mermaid cyberdeck”—komputer mini yang dirangkai dari tas clutch bekas, kayu, perangkat keras emas, dan kabel-kabel berantakan yang justru jadi hiasan.

Hasilnya? Viral. Akun TikTok-nya tembus 230.000 pengikut dalam hitungan bulan. Kenapa? Karena dia ngejawab pertanyaan yang gak pernah kepikiran orang: kenapa sih laptop harus bentuknya kotak abu-abu?

Definisi Cyberdeck:
Secara teknis, cyberdeck adalah komputer portabel rakitan sendiri, terinspirasi dari novel Neuromancer karya William Gibson (1984). Tapi di 2026, definisinya udah meluber.

Yang jelas, cyberdeck itu:

  • DIY total: lo rakit sendiri dari komponen lepasan
  • Estetik maksimal: bentuknya unik, gak kayak komputer pada umumnya
  • Seringkali fungsional terbatas: ini bukan pengganti MacBook lo

Kok bisa viral?
Simak penjelasan Emma Orhun, kreator 26 tahun dari Ottawa: “It’s people saying, ‘We’re going to learn to be a part of this narrative as well'”.

Maksudnya? Orang udah capek sama produk teknologi yang itu-itu aja. Semua laptop keliatan sama. Semua HP bentuknya segiempat hitam. Cyberdeck adalah bentuk perlawanan estetik terhadap dominasi Big Tech.

Bahkan, tren ini juga punya dimensi politik. Banyak kreator bilang cyberdeck itu anti-kapitalis dan pro-keberlanjutan—karena mereka pake barang bekas yang seharusnya jadi sampah.

Contoh Cyberdeck yang Lagi Viral:
Dari laporan Teen Vogue, ini variasinya:

  1. Mermaid cyberdeck: punya Annike Tan. Bentuknya kayak tas kerang, ada kabel yang menjuntai kayak rambut putri duyung.
  2. Strawberry Shortcake cyberdeck: komputer mini yang didesain seperti kue stroberi. Ada yang bentuknya kayak kepiting juga!
  3. Cloud-shaped camera: punya Tru Narla (30 tahun, Brooklyn). Kameranya bentuk awan, bisa dipake buat motret beneran.
  4. Computer Angel: hairclip kamera video yang dipasang di rambut. Kedengeran aneh? Iya. Tapi viral.

Bahkan, kreator mulai ngembangin ke arah solarpunk—gabungan teknologi dengan alam. Annike Tan lagi riset gimana caranya panen listrik dari lumut. Lo bayangin, dinding gedung ditutup lumut yang menghasilkan listrik buat nyalain komputer lo.

Pelajaran buat lo:
Cyberdeck nunjukkin bahwa perkakas gak harus fungsional doang. Perkakas bisa jadi statement. Bisa jadi ekspresi diri. Dan yang paling penting: lo gak perlu jadi insinyur buat bikin satu. Annike Tan bukan lulusan teknik. Dia cuma berani eksperimen.

Kalau lo pengen bikin cyberdeck, mulai dari:

  • Cari barang bekas di sekitar lo (tas, kotak perhiasan, mainan anak)
  • Beli Raspberry Pi atau papan sirkuit murah (mulai Rp 500k-an)
  • Pelajari soldering basic dari YouTube
  • Yang terpenting: jangan takut jelek. Cyberdeck justru ngerayain ketidaksempurnaan.

Tren 2: Bicycle-Powered Dishwasher – Olahraga Sambil Cuci Piring

Nah, ini perkakas paling absurd menurut gue. Tapi justru ini yang paling viral.

Siapa pembuatnya?
Seorang kreator asal Thailand dengan akun Instagram @nikrdaadk. Di bulan Mei 2026, dia nge-post video mesin cuci piring yang digerakkan dengan sepeda statis.

Gimana cara kerjanya?

  1. Lo duduk di sepeda. Lo kayuh.
  2. Gerakan sepeda diputerin ke sebuah “jaring” yang berisi piring kotor.
  3. Jaring itu berputar di dalam air sabun.
  4. Ada shower kecil buat bilas. Ada kipas buat ngeringin.

Semuanya digerakkan oleh tenaga kayuhan lo.

Seberapa viral?
Video itu ditonton 20,4 juta kali. Dapat 231.000 likes dan hampir 7.000 komentar.

Reaksi netizen:

  • Ada yang bilang: “Wash, rinse, and dry plus keep fit 😂”
  • Ada yang ngejek: “Modern solutions require modern problems”
  • Ada yang nyebut ini “Dishwasher Pro Max” 

Tapi yang bikin gue mikir: meskipun ini terlihat konyol, ada logika di baliknya. Kreator itu (namanya Nikorn Dadok) punya banyak video “jugaad” lainnya—istilah India untuk solusi murah dan kreatif dari bahan seadanya.

Dia mengubah pekerjaan rumah yang membosankan jadi aktivitas yang menghibur (dan menyehatkan). Dan itulah inti dari viral: orang rela nonton 20 juta kali bukan karena mesinnya efisien, tapi karena menghibur.

Pelajaran buat lo:
Lo gak perlu nunggu jadi insinyur buat bikin alat unik. Yang lo butuhkan adalah:

  1. Keberanian untuk terlihat konyol
  2. Kreativitas memanfaatkan barang sekitar
  3. Kamera HP buat dokumentasi

Siapa tahu ide nyeleneh lo bisa jadi sensasi berikutnya. Lagipula, kata netizen: lebih baik cuci piring sambil olahraga daripada cuci piring sambil rebahan, kan?

Tren 3: Cardboard Washing Machine – Mesin Cuci dari Kardus yang Beneran Bisa Digunakan

Ini yang bikin gue paling takjub. Seorang remaja 17 tahun dari Nigeria, yang dikenal dengan nama Smartician, bikin mesin cuci mini yang fungsional—dari kardus bekas, botol plastik, dan baterai.

Gimana ceritanya?
Dalam video yang viral, Smartician ditantang: “Bisa gak lo bikin mesin cuci?”

Jawabannya: “Okay, challenge accepted”.

Dia potong kardus, bentuk, rakit komponen, pasang kabel. Hasilnya? Sebuah mesin cuci mini yang bisa:

  • Mengisi air secara otomatis
  • Memutar drum untuk mencuci
  • Membilas pakaian
  • Mengeringkan dengan spinner terpisah

Dia uji coba dengan selembar kain kotor. Dan beneran bersih.

Seberapa viral?
Videonya ditonton 5,7 juta kali dalam 4 hari pertama. Dijuluki genius oleh netizen.

Yang menarik perhatian gue:
Ini bukan cuma “mainan kardus”. Smartician merakitnya dengan sirkuit listrik sederhana (pake baterai) dan mekanisme putaran yang mirip mesin cuci sungguhan.

Tantangannya: apakah ini tahan lama? Jelas nggak. Apakah ini bisa dijual massal? Jelas nggak.

Tapi itu bukan poinnya. Poinnya adalah: seorang remaja dengan sumber daya terbatas di Nigeria bisa menciptakan sesuatu yang membuat dunia terkesima.

Smartician nggak punya akses ke 3D printer atau CNC machine. Dia punya kardus, botol plastik, dan imajinasi. Dan itu cukup.

Pelajaran buat lo:
Jangan pernah bilang “gue gak punya alat” atau “gue gak punya bengkel”. Tren DIY 2026 justru merayakan kreativitas dalam keterbatasan.

Kalau bocah Nigeria bisa bikin mesin cuci dari kardus, lo pasti bisa bikin sesuatu yang keren dari barang bekas di sekitar lo.

Catatan penting: Jangan coba-coba colokin mesin cuci kardus ke listrik rumah ya. Ini eksperimen yang unik, tapi bisa bahaya kalau gak paham kelistrikan. Nikmati sebagai inspirasi, bukan instruksi teknis.

Bonus: Tren DIY 2026 versi Creativeworld Frankfurt

Setiap tahun, pameran Creativeworld di Frankfurt (Jerman) merilis laporan tren untuk industri kreatif. Untuk 2026, mereka nunjukkin tiga gaya besar yang ngarah ke keberagaman ekspresi.

1. Modern Romantics (Estetik Romantis)

  • Ciri-ciri: renda, bordir, sulaman manik-manik, ilustrasi botani, sketsa alami
  • Buat siapa: lo yang suka kerajinan tangan detail kayak scrapbooking, bikin kartu, atau bikin perhiasan dari manik-manik

2. New Rebels (Estetik Memberontak)

  • Ciri-ciri: percikan cat, hologram, efek 3D, teknik spontan (tetes, ciprat, cetak), material daur ulang
  • Buat siapa: lo yang suka eksperimen, misalnya bikin tote bag dengan sablon manual atau bikin hiasan dinding dari resin

3. Cool Classics (Estetik Sporty & Personal)

  • Ciri-ciri: huruf besar dan berani, emblem, teknik simpul (macrame, paracord), upcycling pakaian
  • Buat siapa: lo yang suka modifikasi pakaian (sweatshirt dipotong jadi crop top, sneaker dicat ulang, bikin kalung dari batu setengah mulia)

Claudia Herke, dari biro stilbüro bora.herke.palmisano, bilang: “DIY is today more than just a creative pastime – it’s a reflection of individual preferences, stylistic worlds, and values”.

Artinya? DIY itu bukan cuma soal bikin barang. Tapi soal ekspresi diri dan gaya hidup.

Tabel Perbandingan 3 Perkakas Aneh

PerkakasAsalBahan UtamaViral KarenaBisa Lo Tiru?
CyberdeckLondonTas bekas, Raspberry Pi, kabelEstetik unik, mirip perhiasan teknologi✅ Bisa, mulai dari barang bekas + papan sirkuit murah
Bicycle DishwasherThailandSepeda, kawat, jaring, selangKonsep absurd (olahraga sambil cuci piring)✅ Bisa, tapi siap-siap ribet
Cardboard WasherNigeriaKardus, botol plastik, baterai, motor kecilFungsional meski bahan seadanya⚠️ Hati-hati soal keamanan listrik

Tabel DIY Project yang Bisa Lo Coba Hari Ini (Sesuai Tren)

Tingkat KesulitanProjectBahanTren yang Sesuai
MudahHiasan dinding makrameTali katun, kayuCool Classics
MudahPot bunga dari botol bekasBotol plastik, cat, taliNew Rebels
SedangTas tote customTas tote polos, cat kain, stikerCool Classics
SedangPerhiasan resinResin, cetakan, pigmen, keringan bungaNew Rebels
SulitCyberdeck sederhanaRaspberry Pi, layar kecil, tas bekas, kabelMana aja (yang penting estetik)

Common Mistakes yang Sering Dilakukan DIY Enthusiast Pemula

1. Langsung Beli Alat Mahal

Lo baru baca tentang cyberdeck. Lo langsung beli soldering station Rp 2 juta, Raspberry Pi Rp 1,5 juta, dan berbagai komponen. Ujung-ujungnya? Nggak jadi rakit karena kewalahan.

Solusi: Mulai dari yang kecil dulu. Cyberdeck pertama Annike Tan terbuat dari tas bekas dan komponen seadanya. Jangan langsung all out.

2. Terlalu Fokus ke Hasil Akhir (Perfectionist)

Lo pengen hasil karyanya sempurna kayak di Instagram. Padahal, kreator viral itu punya banyak percobaan gagal di belakang layar.

Solusi: Rangkullah proses. Cyberdeck justru ngerayain “kekacauan” kabel yang keliatan. Gak usah takut hasilnya berantakan.

3. Lupa Dokumentasi

Lo udah bikin project keren. Tapi lo lupa foto atau video. Padahal di era medsos, dokumentasi itu separuh dari karya.

Solusi: Rekam proses lo. Gak perlu sinematik. Cukup jelas. Netizen suka liat behind the scenes.

4. Mengabaikan Aspek Keselamatan

Membuat mesin cuci dari kardus dengan sirkuit listrik (kayak yang dilakukan Smartician) sebenarnya berisiko. Bisa konslet. Bisa kebakaran.

Solusi: Kalau lo pemula, hindari dulu project yang melibatkan listrik tinggi. Mulai dari makrame, lukisan, atau upcycling pakaian dulu.

5. Lupa Bawa Kerajinan ke Digital

Lo bikin kerajinan tangan bagus. Tapi cuma dipajang di rumah.

Padahal, Shopify mencatat bahwa kerajinan tangan yang dipasarkan lewat media sosial punya potensi jual tinggi. Contoh: Mush Studios, brand karpet tufting yang viral lewat TikTok.

Solusi: Buka akun Instagram atau TikTok buat karya lo. Jangan takut jelek. Setiap kreator besar mulai dari nol.

Practical Tips: Mulai Jadi Kreator DIY dari Nol

Berdasarkan tren 2026, gue kasih roadmap buat lo yang pengen eksis di dunia DIY:

Level 1 (Minggu 1-2): Eksplorasi

  1. Tonton 10 video DIY di TikTok/YouTube setiap hari. Simpan yang menurut lo menarik.
  2. Identifikasi satu teknik yang pengen lo kuasai (makrame, lukisan, upcycling, soldering, dll).
  3. Beli alat minimal: gunting, lem, cutter, penggaris. Gak perlu yang mahal.

Level 2 (Minggu 3-4): Eksekusi & Dokumentasi

  1. Bikin project pertama lo. Ikutin tutorial sederhana (contoh: bikin pot gantung makrame dari tali).
  2. Rekam prosesnya. Gak perlu panjang, 30-60 detik cukup.
  3. Upload ke TikTok atau Reels. Kasih caption simple dan hashtag yang relevan (#DIY, #kerajinan, #viral).

Level 3 (Bulan 2-3): Eksperimen & Branding

  1. Coba gabungkan teknik. Misal: bikin tas tote polos, lalu lo sulam manik-manik (modern romantics) dan lo cipratin cat (new rebels).
  2. Mulai bangun identitas. Apakah lo suka gaya romantis? Rebels? Classic? Fokus ke satu dulu.
  3. Jangan lupa engage sama followers. Balas komentar. Tanya pendapat mereka.

Level 4 (Bulan 4+): Monetisasi (Opsional)

  1. Buka toko online (Shopify, Tokopedia, Shopee). Mulai dari produk kecil dulu (bantal, gelang, tote bag).
  2. Tawarkan personalisasi (misal: bordir nama pembeli). Nilai jual naik drastis.
  3. Kolaborasi dengan kreator lain. Saling promote.

Tabel Hasil: Apakah Tren Ini Cuma Hiburan atau Ada Nilai Lebih?

TrenHiburan?Nilai Fungsional?Nilai Estetik?Potensi Monetisasi
CyberdeckTinggi (unik)Sedang (bisa dipake)Tinggi bangetKolektor, seni digital, pameran
Bicycle DishwasherTertinggi (absurd)Rendah (ribet)Rendah (berantakan)Konten viral, endorse brand sepeda/mesin cuci
Cardboard WasherTinggiRendah (tahan sebentar)RendahKonten viral, inspirasi edukasi

Dari tabel ini lo bisa lihat: gak semua perkakas viral itu fungsional. Sebagian besar viral karena menghibur dan estetik. Tapi justru di situlah peluangnya. Lo bisa bikin konten yang serius, yang viral, yang menghasilkan cuan (entah dari iklan, endorse, atau jual produk).

Kesimpulan: Perkakas 2026 Bukan Tentang Fungsi, Tapi Cerita

Gue mulai artikel ini dengan cerita tentang bor listrik yang bising. Tapi setelah ngeliat tiga tren ini—cyberdeck estetik, dishwasher tenaga sepeda, mesin cuci kardus—gue sadar:

Perkakas sekarang bukan tentang “seberapa kuat dia bekerja”. Tapi tentang “seberapa kuat dia bercerita”.

Cyberdeck bercerita tentang perlawanan terhadap desain teknologi yang monoton. Bicycle dishwasher bercerita tentang mengubah kerja rumah jadi hiburan. Cardboard washer bercerita tentang kreativitas tanpa batas.

Dan yang paling penting: lo gak perlu jadi insinyur atau punya bengkel mahal.

Cukup punya:

  • Barang bekas di sekitar lo
  • Koneksi internet buat belajar
  • Keberanian buat terlihat konyol
  • Dan kamera HP buat mendokumentasikan

Tren DIY 2026 dari Creativeworld Frankfurt nunjukkin bahwa kreativitas sekarang lebih dihargai daripada kesempurnaan. Percikan cat yang berantakan? Itu seni. Jahitan yang gak rapi? Itu karakter. Kabel yang menjuntai? Itu estetik.

Pertanyaan terakhir buat lo yang baca ini:

Kapan lo mulai bikin perkakas aneh lo sendiri?

Karena mungkin, ide nyeleneh lo berikutnya adalah yang ditunggu-tunggu oleh 20 juta orang di dunia. Kayak mesin cuci sepeda dari Thailand. Atau komputer bentuk kepiting dari London. Atau mesin cuci kardus dari Nigeria.

Gak ada yang tahu. Kecuali lo berani mulai.

Gue sekarang lagi ngumpulin barang bekas buat bikin cyberdeck versi Indonesia. Kira-kira bentuk apa ya yang khas Nusantara? Wayang? Batik? Atau angkot?

Saran-saran lo di kolom komentar, ya!

Anda mungkin juga suka...